Selasa, 25 Mei 2010

Perbandingan Sistem Tata Waktu Hijriyah dan Masehi





Tahun Hijriyah

Tahun Masehi

Dimulai hijrah Nabi Muhammad SAW

Dimulai dengan kelahiran Nabi Isa AS

Bulan Hijriyah

Bulan Masehi

Muharram

Januari

Syafar

Februari

Rabiul Ula

Maret

Rabiul Tsani

April

Jumadil Ula

Mei

Jumadil Tsani

Juni

Rajab

Juli

Sya’ban

Agustus

Ramadhan

September

Syawal

Oktober

Dzulqaidah

Nopember

Dzulhijjah

Desember

Hari Hijriyah

Hari Masehi

Ahad

Minggu

Senin

Senin

Selasa

Selasa

Rabu

Rabu

Kamis

Kamis

Jumat

Jumat

Sabtu

Sabtu

Pergantian Hari Hijriyah

Pergantian Hari Masehi

Petang Hari

Tengah Malam

Cara Konversi Jam Hijriyah dengan Jam Masehi (Biasa)

Karena perbedaan waktu antara jam Hijriyah dengan jam Masehi selisih 6 (enam) jam, maka dalam penentuan waktunya sangat berbeda. Misal, seorang anak lahir, pada hari Kamis jam 20.00 (jam 8 malam) menurut waktu Masehi, maka menurut waktu Hijriyah anak tersebut lahir pada hari Jumat jam 02.00 (baru 2 jam anak tersebut lahir pada hari Jumat.

Contoh lain, pada gambar jam di atas, jarum pendek menunjuk ke arah angka 2 jam Masehi (dan angka 8 jam Hijriyah) dan jarum panjang menunjuk ke arah angka 10.00 jam Masehi (dan angka 04.00 jam Hijriyah). Ini berarti waktu untuk jam Masehi menunjukkan jam 02.20 (jam 2 lebih 20 menit) sedangkan waktu untuk jam Hijriyah menunjukkan jam 08.20 (8 jam lebih 20 menit).

SISTEM TATA WAKTU DENGAN MENGGUNAKAN JAM HIJRIYAH

"Hai orang-orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara kaffah" (QS. Al Bagarah (2) : 208)

Pendahuluan

Ummat Islam menganut dua sistem almanak (penanggalan), yaitu gabungan sistem almanak qomariyah (lunar calendar system) dan sistem almanak syamsiyah (solar calendar system). Beberapa nash yang mendasari sistem almanak ini adalah:

"Dia menyingsingkan pagi (dari gelap), dan Dia menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) - matahari dan bulan untuk perhitungan (waktu). Itulah ketentuan (Nya), ..." (QS. Al An'am (6): 96).

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah 12 bulan, dalam ketetapan Allah. "(QS. Al Baqarah (2): 36.

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan haq. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui" (QS Yunus (10):5).

Awal Hari pada Almanak Masehi :

"Dunia Internasional" pada umumnya, hari bagi mereka disepakati berawal dari "Garis Tanggal Internasional" (Internasional Date Line-IDL), yaitu garis bujur atau meridian (timer atau barat) geografis 180 (yang membentang dari Selat Bering di belahan bumi utara, melintasi Kepulauan Fiji di wilayah tropis, hingga di sebelah timer New Zealand). Wilayah di sebelah barat IDL mengalami "hari baru" (lebih awal daripada wilayah sebelah timur IDL. Selain itu, "Dunia Internasional" juga bersepakat, bahwa "awal-hari" atau pukul 00:00:00 adalah "tengah-malam"(midnight).

Jika dikaji lebih mendalam berdasarkan berbagai pustaka dan dokumen, lama penetapan "awal-hari" pada "tengah-malam” dan "hari-baru" yang dimulai dari IDL tersebut sama sekali tidak memiliki landasan ilmiah (no scientific basis)maupun landasan nash (no religious basis), melainkan hanya sekedar "kesepakatan manusiawi" (human consensus) yang sangat artificial (reka-rekaan saja). Kesepakatan mengenai penetapan "awal hari" dimulai dari meridian 180o Greenwich pada pukul 00:00:00 tengah malam tersebut bermula dari gagasan Standford Fleming berkebangsaan Canada dan Charles F. Dowd berkebangsaan Amerika, yang memperkenalkan sistem tata-waktu GMT pada tahun 1993. Hingga hari ini belum pernah ada konvensi Internasional.

"Awal Hari" pada Almanak Hijriyah:

Hari pertama bagi bulan qomariyah ditandai oleh "penampakan hilal" atau "penampakan bulan sabit" (crescent visibility) di ufuk barat pada petang hari, sesaat setelah matahari terbenam.

Hilal (crescent) atau "bulan sabit" yang menandai awal bulan qomariyah (lunar moon) terjadi ketika bumi, bulan, dan matahari saling berkonjungsi (ijtima'). Jika konsisten terhadap peristiwa alamiah yang menjadi dasar bagi sistem almanak Hijriyah tersebut, maka "awal hari" atau pukul 00:00:00 dalam sistem almanak Hijriyah adalah "petang hari" karena "awal-bulan" (yaknl, "awal hari" bagi bulan yang bersangkutan) ditandai oleh" penampakan hilal" pada "petang hari". Dengan demikian, "hari" bagi umat Islam yang menganut sistem almanak Hijriyah dimulai dari "malam hari" terlebih dahulu, kemudian disusul dengan "siang-hari" (dengan sekuens: petang--malam--pagi--siang--sore--petang); atau "dari petang hingga petang berikutnya".

Pendekatan Praktis Kaliberasi waktu:

Dalam menetapkan "awal-hari" dan "akhir-hari" menurut sistem almanak Hijriyah (maupun Masehi) perlu berhati-hati, khususnya yang berkaitan dengan jadual waktu beribadah harian (sholat fardhu, Idul Fitri, Idul Adha, saum, dan yang lainnya).

Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita menetapkan "awal-hari" menurut sistem almanak Hijriyah bagi suatu tempat atau kota tertentu. "Awal-hari" adalah pukul 00:00 (pada petang hari) yang secara khronometris lazim "direkarn" dengan alat yang dikenal sebagai "arloji" atau "jam". Sekarang bagaimana mengkaliberasikan (mencocokan) perangkat khronometer (arloji / jam) tersebut secara tepat untuk pukul 00:00 sebagai "awal-hari".

Kaliberasi perangkat khronometer bagi suatu tempat tertentu di muka bumi dapat dilakukan secara tepat pada hari-hari di mana "panjang malam" sama dengan "panjang siang", yaitu ketika pada "siang-hari di hari-hari tersebut matahari berkulminasi tepat di zenith tempat yang bersangkutan.

Perbedaan Jam Hijriyah dengan Jam Masehi (Jam Biasa):

Beberapa perbedaan antara jam hijriyah dengan jam Masehi ( jam biasa) antara lain:

1. Awal hari (jam 00:00) pada jam Hijriyah, adalah pada "petang-hari" sedangkan jam Masehi pada "tengah-malam".

2. Karena "awal-hari" pada jam Hijriyah pada "petang-hari" saat tenggelam matahari, sedangkan pada jam Masehi "awal-hari" pada "tengah-malam" maka perbedaan waktu antara jam Hijriyah dan jam Masehi terdapat selisih waktu 6 jam.

3. Pada jam Masehi angka 12 posisinya ada di atas, dan angka 6 ada di bawah, sedangkan jam Hijriyah posisi angka 12 ada di bawah dan angka ada di atas.

4. Perputaran jarum jam Hijriyah ke kiri, sesual dengan perputaran ibadah thowaf, atau perputaran alam semesta.

Untuk Pesanan dan Penjelasan Lebih Rinci mengenai jam Hijriyah, Anda dapat menghubungi:

Kantor Pemasaran:

Yayasan Buana Katulistiwa Jln. Ketapang No. 6 Pondok Cina - Kota Depok 16424

cp. Taqiyuddin 081386677567, M. Syafril 081383471233, atau Zulfikar 081808217721

Senin, 24 Mei 2010

Teks Menara Jam Makkah

Menara Jam Makkah Mengubah Acuan Waktu dari GMT ke Makkah

Oleh M. Lili Nur Aulia

Tarbawi, Edisi 227 Th. 11, Jumadil Awal 1431, 6 Mei 2010

Siapapun yang menginjakkan kakinya di Makkah hari-hari ini akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda. Selain bangunan besar hotel dan pertokoan yang dahulu mengelilingi Masjid Al Haram, telah dipugar, juga kesibukan pembangunan di sekitar Masjid Al Haram, yang seperti tak mengenal waktu. Bila sebelumnya Masjidil Haram dikelilingi bukit berbatu, sekarang mulai dikelilingi hotel-hotel pencakar langit. Hotel itu bisa digunakan untuk menampung umat Islam yang menunaikan ibadah haji dan umrah tiap tahun. Ada yang mengatakan, bila upaya ini telah rampung, kuota haji pun bakal dihapus.

Salah satu proyek besar yang kini tengah dikerjakan Kerajaan Saudi Arabiya di Makkah adalah, proyek pembangunan menara bernama Abraj Al Bait, yang salah satunya disebut Burj Sa'ah Makkah Palace, atau lebih popular disebut Menara Jam Makkah. Menara ini merupakan sebuah kompleks bangunan yang terletak di Kota Mekkah, dirancang oleh para arsitek dari Dar Al Handasah Architects dan pelaksanaan pembangunannya dilakukan oleh Saudi Bin Laden Group dengan menghabiskan dana lebih dari 3 milyar dollar. Itulab sebuah proyek besar yang diarahkan sebagai langkah pertama mengganti acuan waktu Greenwich dengan acuan waktu Makkah. Juga, agar kota suci itu besar-besar menjadi kiblat dan petunjuk waktu bagi lebih dari satu milyar Muslim di dunia.

Kini, pembangunan Menara Jam Makkah memasuki hari-harinya yang paling sibuk. Kerajaan Saudi sedang merampungkan proses memasang jam khusus berukuran raksasa, di atas menara tertinggi dan terbesar di dunia, dan bersebelahan dengan Masjidil Haram. Mohamad Al-Arkoubi, Wakil Presiden dan General Manager Hotel Burj Sa'ah Makkah Palace yang menghadap ke Masjidil Haram" mengatakan, "Bagian pertama dari hotel akan dibuka pada akhir Juni depan dan penyempurnaan jam tersebut akan dirilis pada akhir Juli, sebelum bulan suci Ramadan. "Secara tegas ia menyatakan, tujuan pembangunan proyek raksasa ini adalah untuk memulai mengubah acuan waktu “dari Greenwich ke Makkah”.

Terdapat tujuh menara dengan satu menara yang memiliki ketinggian di atas 6 menara lainnya dan dikhususkan untuk apartemen. Di dalam menara-menara itu nantinya juga akan dibuat sebuah museum Islam, dan observasi astronomi yang digunakan untuk tujuan ilmiyah internasional dan religius. Juga akan segera ditayangkan film dokumenter terkait pernbuatan jam produk Jerman yang diletakkan di kepala menara tertinggi. Selain itu, menara-menara tersebut juga akan diisi dengan empat lantai pusat perbelanjaan, ruang konferensi, dan fasilitas lain. Konstruksi Menara Abraj Al Bait ini sebenarnya sudah dimulai pembangunannya sejak tahun 2004, dan secara bertahap ketujuh menara ini akan selesai pada tahun 2010 ini. Menara-menara itu diperkirakan memiliki sekitar 3000 kamar dan apartemen. Dan jika jumlah lantai di seluruh kompleks menara ini dihitung semua, make jumlah total lantai diperkirakan mencapai 1.455.000 m2 dan akan menjadi bangunan dengan jumlah lantai terluas di dunia, mengalahkan The Venetian Macao, Makau, China yang menjadi pemegang rekor hingga saat ini.

Dalam konferensi pers di Dubai, Arkoubi menguraikan lebih detail soal menara itu. Panjang struktur beton menara utama jam Mekah adalah 662 meter sedangkan panjang struktur baja, yang di atasnya 155 meter, dengan demikian menjadi menara beton tertinggi di dunia dan menara kedua tertinggi jika strukturnya, setelah Menara Khalifa di Dubai. Dengan panjang jam yang akan dipasang adalah 45 meter sedangkan lebarnya 43 meter, menurut Arkoubi, itu adalah jam terbesar di dunia karena enam kali lebih besar dari Big Ben di London, dan akan dihubungkan ke pusat pewaktuan terbesar di dunia, termasuk London, Paris, New York, dan Tokyo.

Menara Jam Makkah, akan tetap bisa dinikmati ketika malam. Bahkan di waktu malam, Menara akan bisa terlihat dalam radius yang lebih jauh daripada ketika siang hari. "Kita bisa melihat jam dan mengetahui waktu dari jarak 17 km dari menara di waktu malam ketika jam memunculkan cahaya putih dan hijau. Tapi, jam besar ini bisa dilihat dari jarak sekitar 11 atau 12 km di waktu siang ketika jam berwarna putih," ujar Arkoubi. Proyek ini, tambah Arkoubi, mempekerjakan lebih dari 7000 orang yang terbagi di beberapa menara, yang kamarnya menghadap ke arah Masjid Al Haram.

Menjawab Pro Kontra Menara Jam

Akan tetapi, proyek menara pencakar langit ini juga mengundang pro dan kontra. Kelompok yang kontra menganggap bahwa pembangunan menara setinggi itu akan mengangkat simbol materialisme yang mengalahkan simbol spiritualisme atau ruhani bagi kota suci Makkah. Mereka juga mengkritik hotel-hotel mewah yang

menggusur hotel-hotel kecil. Hotel-hotel mewah yang berdampingan dengan Masjid Al Haram itu menurut mereka, pasti hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya, dan sangat tidak mungkin dinikmati oleh orang-orang fakir miskin. Terlebih, orangorang menengah ke bawah itulah yang banyak menginap di masjid seat melakukan manasik haji di tempat yang kumuh atau tanpa atap sekalipun.

Tapi Arkoubi memiliki jawaban terhadap kritikan itu. Menurutnya, "Misi kerajaan adalah bagaimana bisa menampung sepuluh juta orang bermukim di Makkah pada waktu yang sama di tahun 2015. Mengapa harus seperti itu, karena melihat peningkatan jumlah umat Islam dunia dan meningkat tajamnya kunjungan ibadah haji dan umrah dari tahun ke tahun." Menurut Arkoubi lagi, target menampung sepuluh juta orang bermukim di waktu yang sama di Makkah itu tak mungkin tercapai tanpa membangun gedung-gedung hotel pencakar langit yang memiliki ruang kamar yang cukup untuk para tamu Allah. Ia pun menjelaskan, "Jadi, luas kota Makkah yang dikelilingi oleh pegunungan itu sangat kecil. Sementara para jamaah haji dan umrah sangat ingin tinggal di dekat dengan Masiidil Haram. Bahkan di antara para tamu Allah, ada juga ingin adanya hotel-hotel yang khusus untuk penduduk asal negara yang sama.

Awalnya, Penemuan Makkah sebagai Pusat Bumi

Isu terkait Jam Makkah, mulai santer dibicarakan sejak bulan April 2009, bertepatan dengan sebuah konferensi ilmiyah yang menegaskan Makkah sebagai pusat bumi. Ketika itu, penemu jam Makkah asal Palestine, bernama Yasin a-Shouk yang mengatakan, "Jam Makkah bergerak berlawanan dengan arah jarum jam sebagaimana rotasi tawaf keliling Ka'bah", merasa yakin bahwa penemuannya itu makin sulit dibantah. Setelah berbagai ahli ilmu bumi berkumpul dan memutuskan bahwa Makkah, tempat Ka'bah berada, sebagai `pusat bumi`, maka penemuan Yasin a-Shouk pun semakin kuat. Ia mengatakan, membutuhkan waktu 4 tahun untuk menjadikannya sulit dibantah.

Make, upaya pembangunan menara jam terbesar di dunia, terus dilakukan. Posisinya di samping Masjid Al Haram, Makkah Mukarramah. Kini, yang tersisa tinggal menyempurnakan letak jam besar yang ada di tempat tertinggi dari menara. Berhasilkah langkah strategis pembuatan Menara Jam Makkah ini, mengubah acuan waktu dunia dari Greenwich? []

Sebuah Jawaban, Mengapa Makkah disebut Ummul Oura?

Mengapa Makkah disebut dalam Al Quran dengan istilah "Ummul Quro" (ibu atau induk dari kota-kota)? Mengapa juga, Allah swt menyebut daerah lain selain Makkah dengan kalimat "maa haulahaa" (negeri-negeri sekelilingnya)? Bila ditilik secara bahasa saja, kata Umm yang artinya ibu adalah sosok yang menjadi sumber keturunan. Make bila Makkah disebut sebagai Ummul Qura, artinya Makkah adalah sumber dari semua negeri lain.

Pertanyaan dan kajian seperti ini, sedikit sedikit kini mulai terjawab melalui berbagai penemuan ilmiyah. Sesungguhnya, tahapan eksperimen tentang hal ini, sudah dipublikasikan di tahun 1978, melalui keterangan Dr. Husain yang kala itu menjadi Kepala Bagian Ilmu Ukur Bumi di Universitas Riyadh, Saudi Arabiya. Hasil studi itu kemudian diterbitkan pula di berbagai majalah sains di Barat. Bersama rekan-rekannya, Dr. Husain menemukan bahwa ditilik dari sudut ilmu geografi (ilmu bumi) dan geologi (ilmu tanah), terbukti bahwa Makkah adalah adalah pusat bumi.

Lalu, tahun 2009, hasil penemuan ilmiyah itu kembali dipublikasikan dalam sebuah konferensi ilmiyah bertajuk "Makkah sebagai Pusat Bumi: Teori dan Praktik." Konferensi yang digelar di Dhoha, Qatar itu memperkuat hasil penemuan bahwa Makkah adalah pusat bumi. Konferensi itu lalu menelurkan rekomendasi yang berisi ajakan agar umat Islam mengganti acuan waktu dunia yang selama ini merujuk pada Greenwich, menjadi Makkah.

Banyak argumentasi ilmiah membuktikan wilayah nol bujur sangkar melalui kota Makkah dan tidak melewati Greenwich di Inggris. Makkah berada di titik lintang yang persis lurus dengan titik magnetik di Kutub Utara. Kondisi ini tak dimiliki oleh kota-kota lain, bahkan Greenwich yang ditetapkan sebagai meridian nol.

Konon, Greenwich Mean Time (GMT) dipaksakan pada dunia ketika mayoritas negeri di dunia berada di bawah jajahan Inggris. Dan jika penemuan ilmiyah bahwa Makkah sebagai pusat bumi diterapkan, mudah bagi setiap orang untuk mengetahui waktu shalat, sekaligus akan mengakhiri kontroversi lama yang dimulai empat dekade lalu tentang rujukan waktu. dunia.[]

Jumat, 21 Mei 2010

Bambang Eko Budhiyono

Dr. Ir. Bambang Eko Budhiyono, M.Sc (Alm.) adalah salah seorang pemikir In­donesia dalam bidang sains dan teknologi yang tekun namun cenderung "melawan arus". Almarhum pernah menjadi dosen di almamaternya (Institut Pertanian Bogor - IPB) namun diberhentikan karena "kecemerlangan" dan konsistensinya mempertahankan ide. Master dalam bidang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan ini menyukai astronomi sebagai hobi dalam hidupnya selain komputer.
Sempat menjadi pengajar dan pengurus di beberapa Pondok Pesantren, antara lain Ponpes Darunnajah, Cipining - Bogor, Yayasan Sumberdaya Islami dan Pusat Pembinaan Iman dan Amal Sholeh.
Selain buku yang anda baca ini, almarhum pernah membuat buku dan program komputer, antara lain; Computer Simulation Modeling for Erosion and Sedimentation Control in Upper Reservoir Catchment" (1982), The Ten Commandments in System Theory (1982), EIASys: An Integrated Computer Program for Environmental Impact Assessment (1990), dsb.
Sejak berhenti mengajar, almarhum hilir-mudik menjadi konsultan namun tidak mengurangi minatnya mengkaji ayat-ayat kauniyah-Nya yang tersebar di seluruh alam. Sebagai konsultan internasional, sering almarhum berhubungan dengan dunia kapitalis yang mengancam idealismenya. Namun sampai akhir hayatnya alhamdulillah almarhum masih tetap, konsisten.